SD Muhammadiyah Suronatan Gelar Pengajian Wali Murid Perdana 2026, Bahas Tantangan Mendampingi Anak Akil Baliqh di Era Digital

Berita Oleh: Anung Baskoro B. N | 10 Jan 2026

Yogyakarta – SD Muhammadiyah Suronatan mengawali tahun 2026 dengan menyelenggarakan Pengajian Wali Murid Perdana pada Sabtu (10/1/2026). Acara yang mengusung tema “Mendampingi Anak Menghadapi Akil Baligh di Era Digital” ini menghadirkan pemateri yang kompeten di bidangnya, Ustadzah Elma Fitria, S.T. Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah tersebut dihadiri dengan antusias oleh ratusan wali murid dari berbagai tingkatan kelas.

 

Dalam paparannya yang komunikatif dan penuh contoh konkret, Ustadzah Elma Fitria banyak menyoroti tanggung jawab penggunaan handphone (HP) pada anak usia akil baligh. Beliau menegaskan bahwa memasuki fase akil baligh, anak-anak tidak hanya mengalami perubahan fisik dan biologis, tetapi juga peningkatan keingintahuan dan interaksi dengan dunia luar, termasuk melalui gawai.

 

“Di usia akil baligh, HP sudah bukan sekadar alat komunikasi. Ia menjadi pintu gerbang informasi, media sosial, dan konten-konten yang tak terbatas. Di sinilah peran aktif orang tua bukan lagi sebagai ‘polisi internet’, tetapi lebih sebagai pendamping dan navigator yang bijak,” tegas Ustadzah Elma.

 

Beberapa poin kunci yang disampaikan terkait tanggung jawab penggunaan HP antara lain:

 

1. Pembatasan dan Pengawasan yang Konsisten: Orang tua perlu membuat kesepakatan jelas tentang durasi, waktu, dan jenis aplikasi yang boleh diakses. Penggunaan aplikasi parental control disarankan sebagai alat bantu, bukan pengganti komunikasi.

2. Pendidikan Literasi Digital sejak Dini: Anak perlu diedukasi tentang keamanan data pribadi, etika berkomunikasi di dunia maya (netiket), serta kemampuan kritis dalam menilai informasi dan konten yang mereka temui.

3. Pemahaman tentang Dampak Negatif: Ustadzah Elma menjelaskan pentingnya dialog terbuka tentang bahaya konten negatif, perundungan siber (cyberbullying), dan risiko kecanduan gawai yang dapat mengganggu perkembangan sosial dan akademik anak.

4. Modeling dari Orang Tua: Orang tua diminta untuk menjadi contoh dalam penggunaan teknologi yang sehat. “Anak-anak lebih mudah meniru apa yang kita lakukan daripada apa yang kita katakan. Saat kita mengurangi screen time dan lebih banyak berinteraksi langsung, mereka akan menangkap pesan itu,” ujarnya.

 

Kepala SD Muhammadiyah Suronatan, Bapak H. M Slamet Riyanto, M.Pd., dalam sambutannya menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen sekolah untuk membangun kemitraan yang kuat dengan orang tua. “Pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama antara sekolah dan keluarga. Di era digital ini, sinergi kita harus lebih erat untuk melindungi dan membimbing anak-anak kita melewati masa transisi yang krusial ini dengan pemahaman agama dan akhlak yang kokoh,” paparnya.

 

Acara ditutup dengan doa bersama. Diharapkan, pengajian perdana ini menjadi langkah awal untuk serangkaian program parenting yang akan diselenggarakan SD Muhammadiyah Suronatan sepanjang tahun 2026, guna mendukung terwujudnya generasi yang tidak hanya cerdas akademik tetapi juga berkarakter kuat dan berakhlak mulia di tengah tantangan zaman. (@nunk)